| Dalam kitab Etika Pariwara
Indonesia (EPI), biro iklan (advertising agency) diartikan
sebagai suatu organisasi usaha yang memiliki keahlian
untuk merancang, mengkoordinasi, mengelola, dan atau memajukan
merek, pesan, dan atau komunikasi pemasaran untuk dan
atas nama pengiklan dengan memperoleh imbalan atas layanannya
tersebut. Dengan demikian, perusahaan periklanan adalah
termasuk kategori perusahaan jasa.
Bisnis periklanan di Indonesia termasuk salah satu bisnis
yang berkembang cukup pesat. Jumlah anggota Persatuan
Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) dari tahun ke
tahun menunjukan kenaikan (total per akhir 2005 terdaftar
412 perusahaan periklanan di seluruh Indonesia dengan
nyaris 50%-nya berada di DKI Jakarta).
Media massa baru juga semakin bermunculan, baik itu
stasiun TV maupun media cetak. Semakin banyak pula perguruan
tinggi yang membuka jurusan periklanan, komunikasi,
disain grafis dan sejenisnya selain kursus-kursus singkat
mengenai berbagai keahlian dalam bekerja di perusahaan
periklanan.
Berkarir di biro iklan bagi sebagian orang dianggap
menarik karena biro iklan dianggap tempat kerja yang
kreatif, dinamis dan berjiwa muda. Walaupun demikian,
tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya bekerja di biro
iklan juga memiliki tingkat stress kerja yang cukup
tinggi.
Secara umum, struktur organisasi suatu biro iklan dapat
digambarkan sebagai berikut:
Berdasarkan struktur di atas, secara umum, ada beberapa
fungsi di biro iklan yang bisa menjadi pilihan berkarir;
yaitu:
1.Bina Usaha (Account Management)
Secara singkat, departemen ini berfungsi
sebagai ‘jembatan’ antara klien-klien suatu
biro iklan dengan departemen-departemen lainnya di biro
iklan tersebut. Saat ia menghadapi klien, maka ia mewakili
biro iklannya dalam mendapatkan informasi tentang apa
saja kebutuhan klien untuk suatu program komunikasi
pemasaran dari produk/jasa klien tersebut. Ia harus
dapat menangkap dengan jeli peluang-peluang usaha yang
mungkin dapat ia peroleh dari klien-kliennya. Ia juga
harus mampu berpikir secara strategis untuk membantu
memecahkan masalah komunikasi pemasaran dari kliennya.
Pada saat ia bertemu dengan rekan-rekannya di biro iklan,
maka ia menjadi wakil klien dalam menjabarkan dengan
sebaik mungkin kebutuhan klien tersebut. Ia juga akan
membantu klien memastikan bahwa segala penugasan dari
klien terlaksana dengan kualitas terbaik, tepat waktu
dan tepat anggaran.
Beberapa kualifikasi yang akan mendukung keberhasilan
seseorang dalam mengawali karirnya dalam fungsi ini
adalah:
Kemampuan berhubungan dengan individu
(human relation)
Kemampuan melakukan presentasi dengan menyakinkan
Kemampuan berbahasa asing (Inggris, Mandarin dan sebagainya)
Mempunyai jiwa “melayani” dengan penuh semangat
dan ceria
Kemampuan menganalisa kebutuhan-kebutuhan klien
Kemampuan memahami strategi pemasaran klien
Mempunyai apresiasi yang baik atas nilai-nilai seni/kreatifitas
Kemampuan memimpin kelompok kerja
Kemampuan mengambil keputusan dalam waktu yang singkat
Menguasai proses kerja di biro iklan dengan baik
Tekun dan teliti dalam menyelesaikan tugas-tugas administrasi
2.Perencanaan Strategis (Strategic
Planning)
Departemen ini berfungsi untuk membantu
departemen Bina Usaha dan Kreatif dalam menemukan ide-ide
dasar pemecahan masalah komunikasi pemasaran dari klien
biro iklan. Pada beberapa biro iklan, fungsi ini masih
digabungkan dengan fungsi dari departemen Bina Usaha.
Tugas utama dari departemen ini adalah untuk ‘menerjemahkan’
taklimat (brief) dari klien agar memudahkan tim kreatif
mengembangkan ide-ide mereka. Suatu taklimat dari klien
pada prinsipnya adalah suatu problem. Seorang Perencana
Strategis (Strategic Planner) harus mampu memperoleh
alternatif pendekatan terbaik untuk memecahkan permasalahan
klien tersebut.
Kunci keberhasilan seorang Perencana Strategis dalam
memecahkan masalah klien adalah: 1) pemahaman yang mendalam
mengenai produk/jasa klien dan 2) pemahaman yang mendalam
mengenai konsumen dari produk/jasa klien. Termasuk dalam
pengertian “produk/jasa klien” adalah seluruh
pesaing-pesaingnya.
Bagaikan seorang jenderal dalam suatu medan perang,
Perencana Strategis mempunyai peran yang kritikal dalam
menentukan arah strategi komunikasi periklanan atas
suatu produk/jasa.
Beberapa kualifikasi yang akan mendukung keberhasilan
seseorang dalam mengawali karirnya dalam fungsi ini
adalah:
Kemampuan berpikir secara analitis
(baik kuantitatif maupun kualitatif) dan konseptual
yang kuat dan tajam
Menguasai teknik-teknik penelitian/riset
Mempunyai apreasi yang baik atas nilai-nilai seni/kreatifitas
Mempunyai wawasan yang luas
Kemampuan melakukan presentasi dengan baik dan jelas,
termasuk disini adalah kemampuan ’menjual’
suatu ide atau solusi
3.Kreatif
Departemen ini berfungsi sebagai
‘dapur’ dari suatu biro iklan. Di departemen
inilah permasalahan komunikasi pemasaran klien dicoba
dipecahkan. Tim kreatif memperoleh masukan dari para
Perencana Strategis. Kualitas dari taklimat yang diperoleh
dari Perencana Strategis inilah yang akan menentukan
titik awal kualitas keluaran dari suatu tim kreatif;
seperti kata pepatah Inggris: Garbage In, Garbage Out.
Selain menemukan ide-ide kreatif untuk memecahkan masalah
tersebut, tim kreatif juga harus memikirkan media apa
saja yang akan sesuai untuk menjadi sarana komunikasi
produk/jasa tersebut. Biasanya, hal ini akan membutuhkan
kerja-sama dengan Departemen Media.
Tim kreatif umumnya terdiri dari 2 fungsi utama; yaitu
fungsi Pengarah Seni (Art Director) dan fungsi Penulis
Naskah (Copywriter). Pengarah Seni bertanggung-jawab
untuk menemukan ide-ide yang bersifat visual sedangkan
Penulis Naskah akan mencari ide-ide yang bersifat verbal
(baik tulisan maupun lisan, tergantung jenis media iklan
yang digunakan). Kecuali untuk media radio yang hanya
membutuhkan komunikasi verbal, kebanyakan jenis media
lainnya akan sangat membutuhkan kerja-sama yang erat
di antara ke dua fungsi tersebut.
Beberapa kualifikasi yang akan mendukung keberhasilan
seseorang dalam mengawali karirnya dalam fungsi ini
adalah:
Kemampuan berpikir secara kreatif
(secara visual ataupun verbal)
Mempunyai wawasan yang luas, khususnya dalam bidang
yang berkaitan dengan kreatifitas
Kemampuan tidak cepat putus asa bila ide/solusinya ditolak
Kemampuan bekerja dalam tingkat stres yang tinggi
Kemampuan bekerja dalam tim
Kemampuan melakukan presentasi dengan baik
4.Media
Departemen ini bertanggung-jawab
dalam memberikan solusi kepada klein berkaitan dengan
pengaturan anggaran/biaya pemasangan iklan klien di
media massa. Dalam Departemen ini biasanya terdapat
beberapa sub-fungsi yaitu: Perencanaan Media (Media
Planning), Negosiasi Media (Media Negotiation), dan
Pelaksanaan Media (Media Implemention atau Media Buyer).
Tugas utama dari seorang Perencana Media (Media Planner)
adalah untuk memastikan bahwa anggaran/biaya pemasangan
iklan suatu klien/produk akan mencapai suatu tingkat
efektifitas dan efisiensi yang tinggi. Efektif dalam
pengertian media yang digunakan akan mampu menjangkau
sasaran konsumen utama dari produk klien tersebut. Efisien
dalam pengertian klien mendapatkan harga terbaik yang
mampu menjangkau sasaran konsumuen utamanya sebanyak
mungkin. Dalam melakukan perhitungan efektifitas dan
efisiensi tersebut seorang Perencana Media harus memahami
bauran media (media mix) seperti apa yang dapat mencapai
kondisi optimal yang diharapkannya.
Negosiator Media bertanggung jawab untuk melakukan negosiasi
baik dari sisi harga pemasangan iklan di media massa,
waktu pemasangan, maupun hal-hal yang berkaitan dengan
‘ukuran’ (space) iklan di suatu media massa.
Idealnya diharapkan iklan suatu produk dapat dipasang
dengan harga semurah mungkin, di tempat/waktu yang paling
efektif dalam menjangkau sasaran konsumennya dan dengan
memperoleh ‘ukuran’ (space) iklan yang seluas/selama
mungkin.
Pelaksana Media (Media Implementor/Buyer) bertanggung-jawab
mengimple-mentasikan rancangan dan strategi pemasangan
iklan yang disusun oleh Perencana Media dan memastikan
bahwa target efektifitas dan efisiensi yang telah disepakati
dengan klien dapat tercapai.
Beberapa kualifikasi yang akan mendukung keberhasilan
seseorang dalam mengawali karirnya dalam fungsi ini
adalah:
Menguasai ilmu statistik (pengolahan
data dan analisa data kuantitatif)
Mempunyai wawasan yang luas, khususnya mengenai kondisi
media massa
Kemampuan bekerja dalam tim
Kemampuan melakukan presentasi (khususnya bagi Perencana
Media)
Kemampuan bernegosiasi (khususnya bagi Negosiasi Media)
Kemampuan bekerja dengan detil/teliti tapi tetap dengan
kecepatan kerja yang tinggi
Kemampuan mengambil keputusan dalam waktu yang singkat
(khususnya bagi Pelaksana Media)
Ke empat departemen di atas boleh
dikatakan sebagai empat pilar utama dalam suatu biro
iklan. Dalam perkembangannya saat ini, suatu biro iklan
saat ini bisa saja tidak memiliki ke empat pilar tersebut.
Selain kemungkinan digabungkannya fungsi Bina Usaha
dengan Perencanaan Strategis, pada saat ini makin banyak
biro iklan yang melepaskan departemen medianya dan menyerahkan
bisnis pemasangan iklannya melalui suatu biro iklan
media (media agency). Biro iklan yang melakukan hal
ini akibatnya hanya berfungsi sebagai biro iklan kreatif
(creative agency atau sering pula disebut sebagai brand
agency). Bila Anda ingin mengirimkan lamaran ke suatu
biro iklan, pastikan bahwa posisi yang Anda incar memang
ada pada perusahaan tersebut.
Selain ke empat pilar di atas, ada beberapa departemen
lainnya yang mempunyai fungsi yang menunjang keberhasilan
ke empat departemen tersebut. Berikut ini uraian singkat
dari beberapa departemen penunjang tersebut:
1.Studio Kreatif
Departemen ini bertanggung-jawab
untuk merubah ide-ide yang ditemukan oleh tim kreatif
(Pengarah Seni ataupun Penulis Naskah) kedalam bentuk
yang dapat lebih “mudah” dilihat dan dipahami
oleh orang kebanyakan. Sederhananya: tugas mereka adalah
memvisualisasikan ide-ide yang awalnya hanya bersifat
“dalam angan-angan” atau baru berupa coretan-coretan
sederhana. Jadi, kecuali materi iklan itu hanya berbentuk
audio (suara), maka untuk materi-materi lainnya, peran
studio ini akan dibutuhkan.
Staf Studio yang menggunakan kemampuan tangannya (secara
manual) dalam memvisualisasikan suatu ide disebut Visualizer.
Individu ini harus mempunyai keahlian menggambar yang
tinggi dalam berbagai gaya sesuai dengan kebutuhan dari
tim kreatifnya.
Selain secara manual, visualiasi ide tersebut juga dapat
dilakukan dengan bantuan peralatan komputer dan perangkat
lunak. Individu yang mampu melakukan hal ini disebut
sebagai Graphic Designer. Seorang Graphic Designer harus
mampu menangkap ide-ide yang disampaikan tim kreatifnya
dan menggunakan segala kemampuannya dan penguasaannya
atas perangkat komputer dan perangkat lunaknya untuk
menghasilkan karya grafis yang diharapkan oleh tim kreatifnya.
Untuk materi-materi yang akan membutuhkan proses lebih
lanjut seperti iklan televisi, maka hasil akhir dari
departemen ini adalah gambar-gambar visual yang akan
digunakan sebagai patokan/bimbingan bagi penuntasan
proses selanjutnya oleh rumah produksi iklan televisi
(dikenal dengan istilah story-board).
Seorang staf Studio Kreatif juga diharapkan mempunyai
pengetahuan mengenai pengaruh/psikologi warna, komposisi
disain, jenis-jenis huruf (font), efek cahaya, jenis-jenis
media iklan (jenis-jenis kertas, plastik dan bahan-bahan
lainnya yang bisa menjadi media iklan) dan dalam beberapa
penugasan dibutuhkan pula keahlian dalam memahami bentuk
secara 3 dimensi.
Satu catatan kecil yang Penulis ingin sampaikan disini
bahwa masih sering terjadi kesalah-pahaman di antara
pelamar pekerjaan ke biro iklan yang mencampur-adukan
pemahaman antara fungsi Pengarah Seni (Art Director)
dengan Graphic Designer. Satu hal yang membedakan secara
nyata ke dua fungsi ini adalah bahwa seorang Pengarah
Seni tidaklah dituntut kemampuannya dalam menggambar
secara manual ataupun dalam penguasaan perangkat lunak
yang berkaitan dengan disain grafis. Seorang Pengarah
Seni dituntut untuk lebih memfokuskan daya pikirnya
dalam penciptaan ide-ide yang orisinil dan kreatif.
2.Produksi Cetak dan Audio Visual
Departemen ini bertanggung-jawab
untuk meneruskan proses kerja yang dilakukan di departemen
Studi Kreatif sampai suatu materi iklan benar-benar
siap ditayangkan. Produksi Cetak bertanggung-jawab untuk
bekerja sama dengan percetakan sehingga menghasilkan
materi-materi iklan cetak. Sedangkan Produksi Audio
Visual akan bekerja sama dengan rumah produksi iklan
TV maupun rumah produksi radio untuk menghasilkan iklan-iklan
TV atau radio.
Kunci keberhasilan dari departemen
ini dapat diukur dari beberapa kriteria berikut:
Kualitas yang tinggi
Harga/biaya yang kompetitif
Waktu penyelesaian yang tepat waktu
Untuk menunjang keberhasilannya,
seorang Produser Cetak harus menguasai dengan baik detil
proses cetak (seperti jenis kertas, jenis mesin cetak,
pencampuran tinta warna dan lain-lain). Sedangkan Produser
Audio Visual harus menguasai proses kerja dalam suatu
rumah produksi, memahami fungsi alat-alat/teknologi
yang digunakan rumah produksi serta mempunyai wawasan
yang luas sehingga mampu memilih sutradara film iklan
yang sesuai dengan yang diharapkan oleh tim kreatif.
3.Pencarian Model (Casting/Talent Department)
Departemen ini berfungsi untuk membantu
tim kreatif dan tim Produksi Cetak dan Audio Visual
dalam menyediakan alternatif model iklan yang sesuai
dengan ide tim kreatif. Model ini dalam pengertian yang
seluas-luasnya, dalam arti, bisa saja model itu adalah
sebagai seorang individu secara lengkap, bisa pula hanya
model untuk suatu bagian tubuh tertentu (model rambut,
model tangan, model kaki dan lain-lain), termasuk juga
model suara.
Seorang pencari model yang handal
akan mampu menerjemahkan ide-ide kreatif dari tim kreatif
dan memberikan saran-saran profesionalnya dalam mencari
model iklan yang sesuai. Ia juga harus mempunyai wawasan
yang luas dan mata yang ‘tajam’ dalam menemukan
model iklan yang cocok. Tidaklah selalu suatu model
hanya dilihat dari kondisi fisiknya saja karena karakter
dan gaya/perilaku seseorang juga dapat mempengaruhi
apakah ia akan cocok ataukah tidak menjadi model suatu
iklan. Pencari model juga harus dibekali dengan kemampuan
membujuk seseorang agar mau menjadi model iklan.
4.Manajemen Proyek (Project Management)
Departemen ini berfungsi sebagai
‘pengawas’ (controller) atas berlangsungnya
suatu proses kerja perusahaan periklanan. Keberhasilan
departemen ini akan ditentukan oleh kriteria-kriteria
berikut:
Pekerjaan yang tepat waktu (on-time)
Anggaran/biaya yang tidak melebihi rencana awal (on-budget)
Kualitas yang tepat/sesuai dengan pesanan (on-quality)
Untuk dapat melakukan fungsinya dengan
profesional, seorang staf Manajemen Proyek harus memahami
dengan sangat baik seluruh proses kerja di perusahaan
periklanan. Ia juga harus memahami kuantitas dan kualitas
seluruh tenaga kerja yang tersedia dan mampu mengatur
dengan baik pembagian waktu kerja serta beban kerja
mereka. Mereka juga harus mampu bekerja dalam tekanan
yang tinggi, mengambil keputusan di saat-saat yang genting
dan selalu siap dengan alternatif pemecahan masalah,
termasuk bila suatu pekerjaan terpaksa harus diselesaikan
oleh pihak-pihak di luar perusahaan (out-sourcing).
5.Departemen Lini Bawah (Below-The-Line Department)
Departemen ini akan sangat bervariasi
dari satu biro iklan ke biro iklan lainnya. Hal ini
didorong oleh makin derasnya kebutuhan akan promosi
yang bersifat “lini bawah”. Promosi “lini
atas” biasanya dikaitkan dengan promosi melalui
media-media yang konvensional; seperti media cetak (koran,
majalah, tabloid, billboard dan lain sebagainya), media
audio (radio), dan media audio visual (televisi, bioskop).
Pengembangan lebih detil dari fungsi ini akan tergantung
dari orientasi bisnis suatu perusahaan periklanan. Pengertian
mengenai promosi ’lini bawah’ inipun saat
ini terus berkembang dengan pesat dan semakin luas areanya.
Beberapa contoh yang dapat diuraikan disini, misalnya:
Events Marketing:
Bertugas untuk mencari bentuk-bentuk kegiatan (events)
yang dapat mendukung promosi suatu produk. Kegiatan
itu bisa berupa: pertunjukan musik, demo penggunaan
suatu produk, lomba olah-raga, pameran, dan lain sebagainya.
Retail Marketing:
Bertugas untuk mencari celah-celah media baru yang ada
di area transaksi (retail area) untuk menggugah minat
konsumen. Contoh sederhananya antara lain: pemasangan
poster di dekat konter pembayaran, pemasangan materi-materi
iklan di suatu warung, pemasangan stiker promosi di
lantai sautu toko, pemasangan rak/lemari pajang khusus
(booth) disuatu supermarket dan lain sebagainya.
Sponsored Program:
Bertugas mencari kemungkinan suatu promosi dapat ”ditempelkan”
dalam bentuk mensponsori suatu kegiatan yang sudah ada
atau menciptakan suatu kegiatan/program khusus. Program
yang paling umum disponsori adalah film-film atau program
di televisi ataupun program di radio. Tapi kegiatan
ini telah berkembang cukup jauh sehingga saat ini bahkan
suatu film bioskop-pun dapat disponsori oleh suatu produk.
Interactive & Direct Marketing:
Dalam konteks ini, Interactive Marketing/Promotion adalah
suatu pendekatan dimana suatu kegiatan dilakukan sedemikan
rupa sehingga memunculkan interaksi antara suatu produk
dengan konsumennya secara langsung. Program-program
promosi interaktif ini paling sering ditemui di dunia
maya melalui penampilan web-site dari suatu produk atau
kegiatan yang disponsori suatu produk tertentu. Bentuk
ini sebenarnya adalah pengembangan dari kegiatan lapangan
(events) yang mempertemukan suatu produk dengan konsumennya
pula.
Direct Marketing/Promotion adalah suatu pendekatan pemasaran
ataupun promosi yang dilakukan dengan cara mengirimkan
suatu pesan khusus (bisa melalui kurir ataupun SMS/MMS)
dan biasanya konsumen sekaligus dapat melakukan pemesanan
pembelian barang/jasa melalui pesan khusus tersebut.
6.Riset Media (Media Research)
Departemen ini sangat erat berhubungan
dengan fungsi Perencanaan Media. Fungsi mereka adalah
membantu Perencana Media dengan memberikan masukan-masukan
mengenai perilaku konsumen yang berkaitan dengan penggunaan
media massa (misalnya: seberapa sering seseorang membaca
koran per minggunya, dimana atau kapan mereka paling
sering membaca koran dan lain sebagainya).
Di Indonesia, ada beberapa biro riset media independen
yang datanya dapat dibeli oleh biro iklan. Departemen
ini dapat pula berfungsi untuk melakukan pengolahan
data-data riset dari biro riset media independen itu
untuk kemudian menyajikan hasil telaah/analisanya kepada
Perencana Media.
7.Jasa Terpadu (Central Service Division)
Divisi ini merupakan gabungan dari
beberapa departemen penunjang yang bersifat umum (nyaris
selalu ada di perusahaan manapun juga). Dalam divisi
ini terdapat antara lain fungsi keuangan, pajak, akunting,
bagian umum, personalia/SDM, dan teknologi informasi
yang Penulis rasa tidak perlu dijabarkan di sini.
Seperti dapat Anda baca di atas, sebenarnya cukup banyak
posisi/fungsi di perusahaan periklanan yang tidak berkaitan
langsung dengan suatu bidang pendidikan tertentu. Dan
sampai saat kinipun belum ada institusi pendidikan yang
mampu mencetak tenaga ahli periklanan secara umum dan
mampu memenuhi kebutuhan seluruh fungsi-fungsi di atas.
Hal ini berakibat perusahaan periklanan yang profesional
akan menyediakan program orientasi dan pelatihan agar
individu-individu yang bekerja di sana dapat secepatnya
beradaptasi dengan pekerjaan-pekerjaan mereka.
Sedikit tambahan mengenai gambaran umum ciri-ciri pekerjaan
yang ada pada perusahaan periklanan:
a. Variasi pekerjaan yang kompleks
b. Dinamika perubahan yang cepat
Perubahan dari sisi klien
Perubahan dari sisi internal perusahaan
Perubahan dari sisi mitra kerja lainnya
c. Tenggat waktu pekerjaan yang singkat
d. Bekerja dalam tim dan menghadapi berbagai jenis kepribadian
e. Lingkungan sosial yang relatif informal
f. Struktur organisasi cenderung datar dan matriks
g. Kebutuhan akan pengetahuan yang luas (tingkat intelektual
yang tinggi)
h. Tingginya tingkat keluar-masuk
karyawan (employee turn-over rate)
i. Karyawan relatif berusia muda (rata-rata 30-32 tahun)
j. Tantangan untuk selalu memunculkan ide-ide kreatif
Setiap jenis perusahaan dan pekerjaan akan membutuhkan
individu dengan karakter dan kemampuan yang berbeda
pula. Beberapa karakter individu yang dapat menunjang
keberhasilan dalam karir Anda di suatu perusahaan periklanan
adalah:
1. Kreatifitas (Creativity):
Kreatifitas adalah inti kehidupan
dari suatu perusahaan periklanan. Jiwa kreatifitas harus
mengalir di seluruh departemen dan di seluruh perusahaan
periklanan, bukan hanya kewajiban dari tim/departemen
kreatif saja.
2. Semangat dan Kecintaan Terhadap Pekerjaan (Passionate):
Kreatifitas yang maksimum hanya dapat
muncul bila ada semangat kerja untuk selalu mencapai
yang terbaik dan menimbulkan kekaguman bagi semua pihak.
3. Berani Mengambil Resiko (Risk Taking):
Resiko gagal adalah sesuatu yang
wajar dalam proses kreatifitas dan inovasi. Perusahaan
periklanan akan menghargai pengambilan resiko yang berhasil
(tanpa harus memberikan `hukuman` atas ide kreatif yang
gagal).
4. Dorongan & Kepercayaan (Empowerment & Trust):
Menghargai tiap kontribusi dari tiap
individu untuk membangun suasana kerja yang saling percaya
hingga karyawan memunculkan seluruh pontensi-potensi
mereka semaksimal mungkin.
5. Proaktif (Proactive):
Individu yang proaktif adalah inti
suatu tim yang mampu berprestasi maksimal untuk menciptakan
ide-ide yang mengagumkan. Perusahaan periklanan mendukung
dan mendorong karyawannya untuk melakukan inisiatif
dan bertanggung-jawab penuh dalam menciptakan dan mendukung
ide-ide yang cemerlang tersebut.
6. Ceria (Fun):
Suasana kerja yang menyenangkan dibutuhkan
untuk merangsang dan terus menjaga tingkat enerji dan
kreatifitas yang tinggi sehingga perlu diciptakan suasana
yang menyenangkan bagi semua orang dengan tetap menjaga
rasa saling menghargai satu sama lain.
Bila Anda yakin bahwa Anda memiliki ke enam karakter
di atas, maka Anda dapat mulai mengembangkan harapan
Anda untuk dapat bekerja dengan baik di suatu perusahaan
periklanan. Tahapan berikutnya adalah mencari posisi/fungsi
apakah yang paling sesuai dengan kemampuan dan latar-belakang
pendidikan Anda.
Semoga sukses!
Penulis; seorang lulusan Fakultas
Psikologi Universitas Gadjah Mada tahun 1986, saat ini
bekerja sebagai President/HRD Director dari PT Citra
Lintas Indonesia (Lowe Indonesia) salah satu biro iklan
terkemuka di Indonesia. Penulis pernah menjadi dosen
honorer di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Atma
Jaya Jakarta selain menjadi dosen tamu pada beberapa
kuliah lepas di beberapa Universitas serta pembicara
pada beberapa pelatihan/seminar, baik untuk topik-topik
yang berkaitan dengan manajemen SDM maupun periklanan.
Sumber : http://www.jobkita.com/career_services.php?id=88
|