| |
Iklan Koran Yang Menipu
"Disadur dari :sekitar
serba serbi ekonomi
Sumber: http://elgibrany.blogsome.com
Sebuah iklan dibuat semenarik mungkin
dengan harapan adanya respon yang baik dari pembaca.
Hal ini berlaku pula untuk iklan lowongan pekerjaan
di koran. Perusahaan yang nakal bahkan tega-teganya
menulis posisi-posisi menarik yang sebenarnya tidak
dibutuhkan, yang tujuannya tentu saja untuk menarik
pelamar sebanyak-banyaknya. Perusahaan-perusahaan liar
tersebut biasanya hanya membutuhkan karyawan untuk bagian
penjualan atau bahasa sederhananya, sales.
Sales, adalah pekerjaan yang menarik,
seni, dan membutuhkan tingkat kesabaran tinggi. Jika
seorang manajer bekerja dengan otak, seorang budayawan
atau ahli agama bekerja dengan hati, seorang tukang
bekerja dengan otot, maka yang bekerja dengan ketiganya
(otak, hati, dan otot) adalah sales.
Jika ada yang berpendapat bahwa sales
adalah penipu, tanya saja instansi mana yang tidak ada
oknum penipu. Bengkel? Tukang service? Dari service
HP sampai service Tape. Mungkin juga pejabat? PNS? Atau
anggota DPR? Atau orang-orang di kejaksaan sampai departemen
agama?
Berbicara masalah penipuan, iklan
koran yang menipu tersebut hanya sebagian kecil saja
dari potret panjang penipuan di Indonesia. Belum bekerja
saja sudah ditipu. Perasaan dongkol, muak, geram, sekaligus
tak bisa berbuat banyak berbaur menjadi satu.
Mencari pekerjaan memang sulit
Contoh iklan lowongan kerja
PT KIBUL Finance Membutuhkan Segera
MT, Kolektor, Surveyor, Analisis Kredit, Supervisor,
P / W,Min D3, Sim C Kirim Lamrn ke PT KIBUL Finance
Komplek Pertokoan TepuTepu Blok B/13 Jl Diboongin Telp
021 – 423xxx
Dibutuhkan segera u’ Posisi
MT, Kolektor, Surveyor, Analisis Kredit, Supervisor,
P/W, Min D3, Sim C Kirim Lamrn ke Jl Terusan Pendek
No 65 – Martakelar Telp 021 – 234xxx
Isi lowongan diatas adalah dua contoh
kasus dari sekian banyak kasus yang menipu. Jangan salah,
dari beberapa posisi yang dicantumkan sebenarnya hanyalah
penarik minat pelamar saja. Yang sebenarnya terjadi
adalah perusahaan hanya membutuhkan sales. Selain posisi-posisi
yang ditulis pada dua contoh tersebut biasanya perusahaan
yang membutuhkan karyawan bagian penjualan adalah dengan
menuliskan Marketing Eksekutif, Marketing Representatif,
Sales Eksekutif, Account Executive, dan lain-lain yang
ujung-ujungnya sales-sales juga. Secara bahasa, mungkin
istilah-istilah diatas adalah berbeda dengan sales,
tapi itu bukan masalah, yang penting menarik.
Maman Suparman, anak muda sebuah
kota kecil di Jawa Tengah, Sarjana Hukum, lulusan sebuah
Universitas Swasta ternama di Jakarta. Januari 2008
adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di Bali.
Berbekal ijazah sarjana ia mencoba mengadu nasib di
Bali. Setelah sekian banyak surat lamaran pekerjaan
yang ia masukkan, akhirnya ada satu perusahaan yang
menghubunginya untuk interview. Sebuah perusahaan pembiayaan
yang mengaku finance terbaik se-Indonesia. Setelah interview,
ia pun diminta untuk psikotest, dan selanjutnya dan
selanjutnya. Ia pun dinyatakan diterima sebagai karyawan
di posisi yang diinginkan, sebagai analis kredit. Sampai
pada interview ketiga, ia sedikit terkejut karena posisi
analis kredit katanya dirangkap surveyor plus marketing.
Tawaran lebih lanjut, Maman ditawari jabatan baru yaitu,
Senior Marketing Associate Business (jabatan yang cukup
sangar), sebuah jabatan baru katanya. Yah, ujung-ujungnya
nyari nasabah. Sales juga. Jabatan sangar itu pun terpaksa
diterima. Apa bedanya dengan sales? Menurut salah seorang
atasan, sales bekerja tanpa gaji pokok, sedangkan SMBA
ada gaji pokok, sebesar Rp 750.000,-
Training pun mulai dijalankan, tiga
hari teori dilanjutkan empat hari di lapangan. Tujuh
hari berlalu, ternyata hal yang mengejutkan kembali
terjadi. Seorang supervisor berkata, “Kalian belum
tentu diterima disini” Yang lebih hebat lagi,
“Gaji pokok 750 ribu akan nampak bila target terpenuhi” |
|